Balada ketulusan telur balado

IMG_20191022_201357.jpg
Credit: @bts_twt

“…apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya

Dulu saya nggak mengerti maksud kalimat itu. Setelah tau, ternyata rasanya nggak main-main ya. Apalagi jika kamu sering menemukannya dibanyak bagian hidupmu. Continue reading “Balada ketulusan telur balado”

Advertisements

Buku, berkelana dan orangtua

Perihal saya yang suka baca buku bukan karena orang tua. Saya sendiri waktu SD yang secara kebetulan menemukan buku usang yang bercerita tentang anak-anak yang berkebun markisa di rumah neneknya. Saya lupa judulnya juga penulisnya. Karena ya pada awalnya saya hanya tertarik pada gambar di sampulnya. Untuk pertama kalinya saya merasakan serunya berimajinasi melalui media buku. Seakan saya masuk ke dalam cerita tetapi saya tidak terlibat didalamnya. Saya melihat seluruh kejadian dalam dunia meraka. Dan itu menyenangkan.

Orang tua rata-rata memang suka melihat anaknya membaca. Tetapi dalam kasus saya terlalu sering beli buku apalagi jika bukunya tebal, yang artinya juga harganya semakin mahal. Bukan lagi pujian malah protes yang didapat. Jadi tiap saya beli buku baru ibu selalu bilang, ‘bukuu teroooos’.
Tapi tetap saja, saya tidak mau berhenti. Membaca itu menyembuhkan. Bener-bener banyak hal yang saya dapat dari membaca. Padahal sebenarnya buku yang saya baca juga belum seberapa. Continue reading “Buku, berkelana dan orangtua”

Kalah di matamu

Sendiri itu menyedihkan. Itu hal yang saya tangkap ketika banyak yang bertanya “kenapa masih sendiri?”

Saya yang tadinya biasa saja, jadi mulai merasa aneh, sampai kadang benar-benar merasa sendirian. Merasa tidak dipedulikan. Tidak berharga. Semua orang sibuk dengan kisah cintanya masing-masing. Hingga menimbulkan tanya “apa sih yang salah dari saya?”. Continue reading “Kalah di matamu”

Highlights of value

Poin-poin ini bisa jadi berguna bisa jadi tidak. Tapi semoga ada yang bisa diambil baiknya.

  1. Penggalan paragraf dari novel “Cantik itu Luka” oleh Eka Kurniawan

“Kenapa kita harus pulang?” Tanya Alamanda, “kita bisa hidup berbahagia di sini”

“Sebab aku tak bermaksud menculikmu seumur hidup”

Sambil mendayung, Kamerad Kliwon duduk di samping gadis itu, namun keduanya sama-sama membisu. Ada yang dipikirkan oleh keduanya, namun hanya berputar-putar di otak belaka, tak juga terkeluarkan selama perjalanan pulang tersebut. Hingga akhirnya ketika mereka berlabuh di pantai, Kamerad Kliwon mengejutkan gadis itu dengan ucapan yang lembut:

“Dengar, Nona,” kata laki-laki itu, “Aku menyukaimu, tapi jika kau tak menyukaiku, itu pun tak apa-apa.”

Ya Tuhan, inilah laki-laki yang selalu membuatku terkejut seolah-olah apa yang akan ia lakukan bahkan tak bisa diramalkan oleh kitab takdir sekalipun, pikir Alamanda dengan pandangan tak berdaya. Ia tak mengatakan apa pun meskipun hatinya ingin mengatakan bahwa ya aku pun mencintaimu. Continue reading “Highlights of value”

Penghuni tanpa rumah

Sudah lama tak menyambangi gubuk kecil berpenerang suluh ini. Kali ini saya kembali membawa cerita. Hal baru yang saya lakukan dalam satu bulan terakhir adalah perjalanan-perjalanan. Dari salah satu perjalanan ini saya mengetahui kabar bahagia dari sahabat yang lama tak bersua. Kabar ini bahagia, tapi untuk sekian detik setelah mendengarnya saya terdiam karena menyadari realitas saya yang jauh darinya. Sampai kapanpun yatim piatu akan mendamba keadaan teman sebaya yang diajak liburan orang tuanya, sedangkan dia diam di panti asuhan menanti donasi. Continue reading “Penghuni tanpa rumah”