Batas

Batas antara bisa dan enggak bisa cuma takut. Batas antara damai dan janji bisa seganas api. Batas antara nyala dan tenggelam begitu sunyi. Di atas luka ada luka. Manusia murka sama luka padahal luka juga enggak sudi bermalam di pikiran manusia. Yang patah tetap bisa hidup. Continue reading “Batas”

Advertisements

Senyuman dalam kepulan asap rokok

“Aku kasihan padamu” katanya sambil menghembuskan asap rokok tebal dari mulutnya.

“Maksudmu?”

“Kau bodoh”

“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud”

“Kau selalu menyukai segala hal tentang dia. Kau selalu mengikuti apa yang dia suka. Melakukan apa yang dia mau. Kau tidak punya pijakan” jelasnya Continue reading “Senyuman dalam kepulan asap rokok”

Tak ada yang istimewa, hanya sebiasa rasa gatal

Hasrat terdalam saya adalah menulis. Gairah terbesar saya ya menulis. Saya akan terus berusaha menulis selagi mampu. Dibaca atau tidak. Laku atau tidak. Karena hanya itu yang saya merasa bisa. Saya juga tidak mau terus berbuih bilang bahwa setiap buku akan menemukan pembaca setianya dan melampaui waktu. Tidak perlu seberat itu. Jika hasrat serupa dengan rasa gatal, menulis serupa dengan prosesi menggaruknya. Mungkin akan menimbulkan luka. Tapi bisa jadi tak ada apa-apa. Hanya gejala psikologis tertentu. Yang jelas : Nikmat rasanya. Continue reading “Tak ada yang istimewa, hanya sebiasa rasa gatal”

Remidi Merbabu, tentang kesempatan kedua yang berakhir bahagia

 

WhatsApp Image 2019-04-29 at 09.05.18(1)
Dari puncak Trianggulasi. Dokumentasi pribadi.

Hari ini dan besok lusa saya masih berlayar, belum ingin berlabuh, tapi sangat ingin punya tujuan. Maka, tujuan saya alihkan pada perjalanan bersama kawan. Kalau bisa sebanyak mungkin dan sejauh mungkin, karena perjalanan selalu membawa saya pada kesempatan baru dan itu menyenangkan. Continue reading “Remidi Merbabu, tentang kesempatan kedua yang berakhir bahagia”

Sexy Killers = hemat listrik

Selesai merampungkan film dokumenter dari Watchdoc Image di Youtube. Speechless. Ancur.

Saya tidak akan berkomentar banyak-banyak, karena ini bukan bidang saya kecuali saya hanya akan mengutip tulisan dari tsana,

“Kalau bumi marah, gak adil banget kalau cuma bisa marah sama pemerintah. Mengeluh, padahal kita yang mengundang amarah. Benahi diri sendiri, dan belajar menghormati ibu bumi.”

Film itu memang jadi senjata ampuh untuk saling memukul dan menyalahkan. Tapi benangnya terlalu kusut dan sulit untuk kita urai. Hal yang paling mudah adalah memulainya dari diri sendiri.

Sexy killers mengajak kita hemat listrik. Hal sederhana yang paling mudah, tapi percayalah akan berpengaruh. Berhenti adu argumen penuh arogansi. Mari benahi diri.