Batasan : Sebuah pelajaran yang melucuti ego

Beberapa waktu lalu saya menyelesaikan sebuah buku best seller karya Mark Manson- Sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Buku ini saya selesaikan dengan baik, hampir tiap halaman saya highlight dengan post it, karena isinya begitu jujur.

Kali ini saya akan menyadur sebuah bahasan menarik dari salah satu bab dalam buku itu, yang intinya dalam hubungan keluarga atau hubungan romantis, terdapat sebuah batasan yang tidak bisa kita ambil alih semua ataupun kita gantungkan semua kepada seseorang. Lakukan hal yang sepantasnya kamu lakukan, dan jika kamu lakukan untuk orang lain lakukanlah secara tulus.


“ Secara umum, orang-orang yang merasa dirinya harus diistimewakan, jatuh ke salah satu jebakan dalam hubungan mereka. Entah mereka mengharapkan orang lain mengambil alih tanggung jawab atas masalah mereka: “Aku ingin akhir pekan yang santai dan nyaman di rumah. Kamu harusnya tahu itu dan membatalkan rencanamu”. Atau mereka mengambil terlalu banyak tanggung jawab dari permasalahan orang lain: “Dia baru saja kehilangan pekerjaan lagi, tapi mungkin ini kesalahanku kerana aku tidak mendukungnya sebagaimana mestinya. Aku akan membantunya menulis kembali lamarannya besok.Continue reading “Batasan : Sebuah pelajaran yang melucuti ego”

Advertisements

Tertinggi

Semesta, aku sayang laki-laki ini. Kagum tidak ada batasnya. Berlebihan tapi nyata.
Hari ini, apapun yang ada di pikirannya, siapapun yang ada di hatinya dan kemanapun langkahnya, restui ia.
Aku mau ia bahagia dengan semestinya.
cr : @agitayuana

Merbabu, kau berhak atas kesempatan kedua

IMG-20181118-WA0011.jpg
Gambar : Dokumentasi pribadi

Perasaan yang muncul, saat tiba-tiba di DM seseorang yang kita kuntit di Instagram, mungkin seperti itulah perasaan saya saat membaca Whatsapp story seorang teman, yang isinya mengajak siapa saja yang berminat mendaki gunung Merbabu untuk menjaprinya. Tanpa pikir panjang saya langsung meluncurkan pesan WA dengan antusias “Kapan?”

Karena sebelumnya saya sudah berniat menutup kegiatan per-pendakian tahun 2018 dengan mendaki Gunung Merbabu, tapi teman satu grup tidak ada yang memiliki jadwal yang cocok, makanya membaca WA story tersebut membuat saya sumringah. Selain itu sebagai kejutan untuk adik saya karena sering saya tinggal. Padahal jaketnya sudah dibeli berbulan-bulan lalu menggunakan uang hasil mengumpulkan angpau lebaran. Continue reading “Merbabu, kau berhak atas kesempatan kedua”

Tentang hati yang patah

1543734024774.jpg
Now, promise me, several times a day.
Even if you feel alone, don’t throw yourself away” cr: Promise-Jimin (Gambar : Dokumentasi pribadi)

Tahun 2018 adalah tahun yang hebat buatku. Ada kehilangan meskipun tidak seberat tahun sebelumnya tapi karenanya aku belajar tentang keikhlasan. Banyak hal yang tidak kusangka bisa kulakukan.

Barangkali, Tuhan menitipkan keajaibannya lewat luka. Karena patah hati secara ajaib bisa berubah wujud menjadi tangan yang mendorong dan menarik dari kedua sisi. Tidak ada hal yang menahan dari sisi manapun membuatku berani melakukan hal yang dulu aku percayai hanya sebuah mimpi. Continue reading “Tentang hati yang patah”

Luka membuatmu menawan, kawan.

Bermula dari seorang teman yang menunjukkan sebuah video di Youtube, tentang kepingan cerita dibalik kehidupan seorang komika, Dzawin Nur. By the way, teman saya ini sangat mengagumi Dzawin.

Saya mengenal Dzawin sebagai konten kreator yang kontennya berisi tentang petualangan, terutama naik gunung. Semenjak saya mulai naik gunung, saya jadi mulai menonton banyak channel tentang petualangan, blog petualang hingga Instagram petualang. Makanya saya merasa begitu familiar dengan Dzawin ini. Continue reading “Luka membuatmu menawan, kawan.”